Rabu, 09 September 2015

Belajar Setting Sound System : EQ


Sekarang kita akan sedikit Belajar Setting Sound System : EQ , topik ini cukup menarik karena setiap dari kita pasti pernah bertemu dengan alat yg satu ini.

Kalian pasti pernah mendengar sebuah sound system bekerja pada sebuah konser atau panggung. Mungkin kalian pernah mendengar suara dari penyanyi “gendut” atau “mendem,” seperti ditutup pake karpet. Sedang kasus lainya seperti suara yg “nembak” atau sejenisnya.

Untungnya, masalah yg disebutkan diatas dapat diobati dengan fungsi Equalizer yg ada pada konsol mixer audio. Fitur EQ berfungsi mengatur kadar bass, treble dan rentang tengah dari suara dengan cara menambah atau memotong volume pada beberapa frekuensi.

Untuk melakukan itu, EQ bekerja pada spektrum suara asli , pada bagian fundamental serta frekuensi harmoniknya. Spektrum membantu mengeluarkan kualitas karakter atau timber dari sebuah instrumen atau vokal. Jika salah satu dari frekuensi ini berubah maka kualitas tonenya pun ikut berubah.

Sebuah equalizer bekerja menambah atau mengurangi level dari sepotong atau rentang frekuensi lalu mengontrol kualitas suaranya. Dengan kata lain, mengubah respon frekuensinya. Sebagai contoh , dengan menambah level pada rentang frekuensi yg tengahnya berada pada 10 kHz akan membuat suara vokal menjadi lebih cerah dan tegas. Jika dipotong pada frekuensi yg sama akan membuat suara menjadi tidak tegas.

Jenis Jenis EQ

Equalizer yg ada pada konsol mixer audio berbeda beda,mulai dari yg simpel sampai yg rumit juga ada. EQ yg paling umum adalah kontrol bass dan treble (disingkat LF EQ dan HF EQ).

Tipikalnya, jenis EQ ini menyediakan tambahan dan potongan sebesar 15 dB pada frekuensi 100 Hz (pada knob frekuensi rendah) dan 10 kHz (pada knob frekuensi tinggi). Kamu akan memiliki kontrol yg lebih luas dengan equalizer 3 band atau 4-band ,jadi kamu dapat memotong atau sedikit menambah level dari beberapa pita frekuensi.

EQ sweepable bahkan lebih fleksibel. Kamu dapat “mencari” rentang frekuensi yg tepat yg memerlukan penyesuaian.

EQ sweepable sering salah disebut sebagai “parametrik,” yg juga berfungsi mengontrol pita fekuensi. Equalizer parametrik memungkinkan penggunanya untuk membuat perubahan pada bandwidth frekuensi, menambah atau memotong ( bandwidth adalah rentang frekuensi yg terkena dampak). Gambar disamping ini memperlihatkan bagaimana sebuah equalizer parametrik bekerja menaikkan level dari beberapa frekuensi sekaligus, dalam hal ini kita sebut bandwidth.

Equalizer grafis adalah jenis yg paling sering ita temukan didalam rak sound system. Jenis ini memiliki sederetan potensio geser yg membagi spektruk frekuensi muali dari 5 sampai 31 baris. Ketika setiap kontrolnya disesuaikan, posisi letak dari potensio gesernya secara grafis mengindikasikan hasil dari respon frekuensi. Normalnya,sebuah equalizer grafis digunakan untuk menyelaraskan sistem speaker monitor panggung, untuk meratakan respon dan untuk meredam frekuensi penyebab feedback.Sedangkan beberapa soundman yg malas ribet malah lebih memilih untuk menggunakan EQ parametrik eksternal atau alat peredam feedback otomatis.

Jadi ,sejauh ini kita telah mengkategorikan jenis jenis equalizer sesuai dengan pita frekuensi yg mereka kontrol. Mereka juga dikategorikan sesuai dengan bentuk dari respon frekuensinya.

Sebuah equalizer yg kelebihan beban menciptakan sebuah bentuk respon yg meruncing menyerupai puncak gunung ketika diset untuk mendorong. Dengan fitur pemerata equalizer, bentuk dari respon frekuensi akan tetap rata.

Sebuah filter akan membantu meredam puncak level dari frequensi. Berfungsi menghalau atau memperkecil bagian atas atau bawah dari frekuensi tertentu. Gambar berikut menunjukkan 3 tipe filter yg berbeda yaitu low-pass, high-pass dan  band-pass. Sebuah filter high pass 100 Hz atau filter low-cut menipiskan frekuensi dibawah 100 Hz. Responnya akan turun sebesar 3 dB pada 100 Hz dan lebih banyak lagi dibawahnya. Ini akan membantu membuang suara menggulung, suara bleduk mikrofon ketika dipegang dan suara pop dari vokal.

Sebuah filter diberi nama sesuai dengan langkahnya, 6 dB per oktaf disebut first-order, 12 dB/oktaf second-order, 18 dB/oktaf third-order dan seterusnya.

Respon frekuensi dan penempatan dari unit mikrofon sangat mempengaruhi kualitas suara. Faktanya, mikrofon dan penempatan dapat dihitung sebagai bagian dari ekualisasi.

Cara Menggunakan EQ

Jika mixer audio kamu memiliki kontrol untuk bass dan treble, umumnya preset frekuensi dari pabrikan adalah 100 Hz dan 10 kHz.

Bila posisi knob EQ berada pada posisi 0 atau flat ,itu artinya fungsi EQ masih dalam keadaan off. Dengan memutar knob searah pergerakan jarum jam akan mendorong level dari frekuensi yg direpresentasikan,begitu juga sebaliknya. Jika mixer kalian memiliki fungsi sweepable EQ, satu knob itu akan mengatur beberapa titik frekuensi yg akan disesuaikan ,dalam hal ini kita sebut dengan rentang. Dan knob putar lainnya mengatur kadar dorongan dan jumlah potongan level.

Seperti yg kami sampaikan sebelumnya, kualitas suara dari vokal atau instrumen tergantung pada level dari sinyal asli dan harmonik dari masing masingnya. Daftar dibawah ini adalah frekuensi dan harmonik dasar untuk vokal waita dan pria pada umumnya :


  • Dasar vokal wanita : 175 Hz -1.175 kHz
  • Harmonik vokal wanita : 2 Hz-12 kHz
  • Dasar vokal pria :  87 Hz-494 Hz
  • Harmonik vokal pria :  1 Hz-12 kHz

Secara dasar, jika suara yg dihasilkan terdengar tipis atau kurang bulat, naikkan level dari bagian frekuensi bawah di masing masing dasar vokal. Jika suaranya terdengar terlalu ngebass atau gendut, maka kalian perlu menurunkan kadar frekuensi bass dari masing masing karakter vokalnya. Jika terdengar becek atau kurang jelas, naikkan level harmoniknya. Menurunkan level harmonik jika suara terdengar kasar atau mendesis.

Dibawah ini adalah sederetan daftar masalah pada sebuah sound system pada umumnya dan setting EQ yg disarankan untuk membenahinya. Jumlah dari penambahan dan pengurangan level tergantung kupingmu mendengarnya. Perubahan sebesar 3 sampai 6 dB seharusnya cukup untuk sebagian besar kasus.


  • Gendut atau sengau : Potong di frekuensi 500 Hz sampai 800 Hz

  • Kabur, mendem, susah didengar : Naikkan di frekuensi 10 kHz

  • Suara terlalu mendesis : Potong di 10 kHz

  • Ngebass, bergemuruh : Potong di 100 Hz untuk oria dan 200 Hz untuk wanita

  • Tipis atau berbadan kecil : Tambahkan level di 100 Hz untuk pria dan 200 Hz untuk wanita


Penggunaan Penyelarasan atau Ekualisasi

Dibawah ini adalah beberapa aplikasi dimana EQ menjadi sangat berguna.

Menaikkan kualitas suara adalah tujuan utama dari EQ ,seperti yg tertulis dibawah ini.

Suara efek khusus : penyesuaian yg ekstrem mengurangi tingkat ketepatan suara, namun ini juga dapat suara efek yg menarik. Dengan menaikkan bagian frekuensi rendah dan tinggi pada vokal akan memberikan efek suara “telefon”. Sebuah filter band pass pada frekuensi 1 kHz dapat melakukan hal yg sama.

Mengurangi noise : kalian dapat mengurangi suara frekuensi rendah yg tidak diinginkan seperti suara dengkuran AC, pijakan lantai dan tarikan nafas dengan menurunkan frekuensi rendah dibawah rentang vokal. Contohnya, seorang aktris wanita akan memiliki frekuensi yg paling rendah pada 200 Hz, jadi kalian akan memotong level frekuensi mulai dari 40 atau 60 Hz. Ini tidak akan mengurangi atau mengubah kualitas tonal dari artis, karena proses pemotongan berada dibawah rentang vokal dari artis. Lebih mudahnya, gunakan sebuah high-pass filter atau low-cut filter yg diatur pada nilai 200 Hz.

Mengkompensasikan penempatan mikrofon : seringkali kalian harus menempatkan sebuah mikrofon lavalier atau jepit dibawah kerah baju atau didalam baju agar tidak kelihatan. Namun kain tidak dapat mentransmisikan frekuensi tinggi vokal dengan baik, jadi kalian akan mendapatkan kualitas tonal yg mendem dan kabur.

Penambahan di area frekuensi tinggi dapat memperbaiki masalh ini (hati hati jangan sampai menimbulkan feedback). Menempatkan mikrofon jepit atau lavalier pada bagian dada menghasilkan naiknya respon di sekitar angka 730 Hz, yg dapat menciptakan suara yg menggembung. Dengan memotong level frekuensi yg sama akan membuat suara yg keluar lebih alami.

Mikrofon headset mungkin tidak perlu di EQ, tergantung dari respon frekuensi dari mikrofon tersebut. Suara akan terdengar lebih cerah jika posisi mic berada didepan dan berubah mendem jika mic berada disamping , atas atau dibawah mulut.

Sebenarnya penggunaan EQ tidaklah rumit pada dasarnya. Kalian perlu untuk mengetahui karakter vokal manusia yg alami dan sesuaikanlah knob EQ untuk mendapatkan hasil yg semirip mungkin.

Demikian sedikit topik Belajar Setting Sound System : EQ kita kali ini, nantikan topik topik menarik seputar dunia sound system profesional yg berikutnya. Jika tulisan ini membantu menambah pengetahuanmu di dunia audio, jangan lupa like facebook kami ya. Salam audio

Senin, 07 September 2015

Belajar Setting Sound System : Kompresor Audio


Belajar Setting Sound System : Kompresor Audio

Apa itu kompresor audio dan apa fungsinya?

Fungsi kompresi audio itu seperti jari yg berada pada fader mixer. Jika level audio terlalu kencang maka kompresor akan menurunkan levelnya.Sebaliknya jika suara terlalu tipis ,kompresor akan bekerja menaikkan levelnya.

Mari kita ulas beberapa fungsi kontrol dari kompresor audio :

Threshold berfungsi memberi perintah kepada kompresor, kapan harus mulai bekerja.Dalam hal ini berapa nilai level db sebelum kompresor memulai tugasnya. Artinya, jika kamu mengaturnya pada level -6 dB, maka ketika tingkat volume dari sebuah instrumen mencapai -6 dB, sinyal tersebut akan mulai dikompres oleh alat ini.

Ratio bekerja bersama fungsi threshold. Ratio adalah jumlah sinyal audio yg diloloskan keatas nilai threshold. Contohnya, jika pengaturan ratio kamu adalah 2:1 dengan threshold -6 dB maka ketika sinyal audio naik sampai ke level -6 dB, kompresor hanya akan meloloskan 1/2 dari sinyal yg asli diatas nilai threshold.

Jika ratio berada pada posisi 4:1, maka hanya sebanyak 1/4 dari sinyal yg akan diloloskan begitu juga 6:1 dan seterusnya. Jika kompresor diatur ke modus infinity, maka fitur ratio berubah menjadi semacam limiter dan tidak akan memperboloehkan sinyal apapun melewati batas threshold. Coba kamu perhatikan tabel rasio kompresi berikut ini :


 Attack berfungsi memberi perintah seberapa cepat atau lambat kompresi mulai bekerja disaat sinyal audio menyentuh batas threshold. Fungso ini berguna jika kamu ingin menjaga kadar “punch” dan dinamika dari sebuah sinyal, namum tetap ingin mengontrol kadar volumenya.

Katakanlah kamu punya saluran kick drum yg ingin kamu ambil bagian awal tendangannya.Kamu bisa mengatur nilai attack untuk mulai bekerja sesaat setelah tendangannya masuk, dan berikan kompresi dari sana. Ini akan membuat pukulan awal dari bass drum lewat tanpa kompresi dan mulai dikompres pada rentang waktu attack yg telah kamu atur.

Contohnya, jika kamu mengatur fungsi attack pada nilai 20 ms (milliseconds), kompresor akan menunggu selama jeda waktu 20 ms setelah sinyal mencapai nilai batas threshold, dan setelah itu kompresi akan mulai masuk.

Release  berfungsi mengatur seberapa cepat atau lambat dari fungsi kompresor mengakhiri kompresi setelah tidak lagi berada pada nilai threshold. Jadi jika kamu meletakkan nilai release pada 150 ms, artinya kompresi akan berakhir atau dilepas “release” 150 ms setelah sinyal dibawah batas threshold.

Output Gain atau Volume ,ada beberapa sebutan untuk fungsi ini disetiap perangkat kompresor yg berbeda, namun semua memiliki peran yg sama. Mari kita coba pada kick drum lagi. Mendongrak output gain akan menaikkan level suara rendah dan membuatnya lebih jelas didengar atau audibel, sementara threshold akan menjaga suara yg berlebihan tetap terkompres. Ini membuat level output dari sinyal lebih konsisten dan rata.

Umumnya ,keran gain dibuka dengan kadar yg sama dengan nilai decibel yg dikompres. Jadi ,jika meter dari reduksi gain kompresor menunjukkan angka -3 dB,kamu dapat menyesuaikan bukaan gain untuk menambah nilai output sebesar 3 dB.

Knee adala fitur yg hanya dimiliki oleh beberapa model kompresor yg beredar dipasaran. Fitur knee mengatur seberapa keras dan empuknya kompresor bekerja. Di sebut “knee” karena bentuk dari sinyal yg melewati proses kompresi terlihat seperti tekukan lutut.

Knee keras tipikal digunakan pada instrumen bass seperti sebuah kick drum atau gitas bass,sedangkan knee empuk cocok untuk vokal, alat berdawai atau cymbal. Semakin rendah  spektrum frekuensi sebuah instrumen maka knee akan diset lebih keras.

Semakin empuk knee, semakin bertahap proses kompresi sinyal instrumen ketika masuk kedalam threshold, dimana dengan knee keras, sinyal tidak terkompres secara bertahap melainkan langsung dikompres penuh.

Kompresi Otomatis , kebanyakan namun tidak semua kompresor audio memiliki fungsi ini. Seperti sebutannya , fitur ini mengatur waktu attack dan rilis sesuai dengan sumber materi yg terbaca oleh algoritme. Ini adalah fungsi yg cukup ringkas jika kamu adalah soundman pemula dan tidak yakin mengenai teori waktu attack dan rilis.Namun perlu dicatat , fungsi ini dapat merugikan ketimbang menghasilkan suara yg lebih baik dalam beberapa materi. Beberapa kompresor audio memiliki tombol otomatis untuk waktu rilis saja . dbx 160sl adalah salah satu kompresor dengan fungsi Otomatis.

Panduan pengguna bagi pemula :

  • Waktu attack “ajaib” adalah 12 ms. Nilai ini bekerja untuk beberapa jenis alat musik dalam rentang frekuensi rentang tengah dan tinggi.
  • Ketika mulai belajar menggunakan ompresor, atur threshold dimana kamu hanya mengompres 3-4 dB pada meter reduksi gain.
  • Untuk intrumen bass seperti gitar bass elektrik dan kick drum, gunakan ratio yg lebih tinggi ,contohnya 6:1 atau 20:1 sampai Infinity tergantung pada pemainnya dan apa yg kamu ingin dapatkan.
  • Ratio yg lebih rendah untuk intrumen dengan frekuensi tengah dan tinggi dapat menggunakan modus 2:1 sampai 4:1
  • Sewaktu mengompres alat musik berdawai seperti biola, cello dll , gunakan ratio yg lebih rendah untuk respon yg lebih “transparan”.
  • Semakin cepat waktu rilis, semakin sedikit potongan suara terkompres yg terdengar ,artinya suara di “remas” dari sebuah kompresor.
  • Limiter berguna untuk instrumen dan subgrup. 
  • Ketika kamu mengeset ratio sampai masksimal ,contohnya 20:1, kamu sebenarnya telah membuat sebuah limiter atau pembatas.
  • Membuka output gain dengan kadar dB yg sama dengan nilai kompresi. Contohnya, jika kamu melakukan kompresi sebesar -4 dB, maka bukalah gain output dalam nilai yg sama.
  • Semakin lambat waktu attack time, semakin banyak suara “pukulan” awal atau “pluck” yg akan kamu dapatkan dari instrumen yg kamu kerjakan.
  • Untuk tendangan kick yg lebih nonjok, aturlah nilai attack ke 15 ms sampai 20 ms. Ini akan membuat suara awal dri tendangan lebih keluar.

Panduan umum waktu ratio :

  • Kick Drum : 6:1 untuk musik rock, 3:1 sampai 4:1 untuk genre jazz atau country.
  • Snare Drum : 2.5:1 sampai 4:1 untuk musik rock, 2:1 sampai 3:1 untuk musik yg lebih kalem.
  • Toms : 3:1 sampai 4:1
  • Overheads : 2:1 sampai 3:1 ,baiknya gunakan kompresi seminimal mungkin pada bagian ini.
  • Perkusi : 2.5:1 sampai 4:1
  • Gitar Bass : 4:1 sampai 20:1 (Infinity) , tergantung apa yg kamu coba dapatkan dan seberapa konsisten permainan dari musisi.
  • Keyboard : 2:1 sampai 4:1
  • Piano Akustik : sama seperti keyboard hanya saja lebih berhati hati.
  • Gitar Elektrik : 2:1 sampai 4:1
  • Gitar Akustik : 2:1 sampai 4:1
  • Vokal Rock : 2.5:1 sampai 6:1
  • Alat Musik Dawai  (biola ,cello dll ) : 2:1 sampai 4:1
  • Harmonika : 2:1 sampai 4:1

Catatan penting untuk Belajar Setting Sound System : Kompresor Audio .Ketika kamu pertama kali belajar , baiknya coba bermain di sekitar area setting ratio yg lebih rendah dulu, gunakan kompresi sebanyak 3 sampai 4 dB. Jika kompresor kalian memiliki tombol modus “Auto” , tidak ada salahnya kalian gunakan sampai kalian mengerti benar tentang cara mengatur waktu attack dan rilis. Jika ksalah satu dari kamu memiliki kompresor dengan merk dbx , coba gunakan fungsi “Overeasy” untuk kompresi yg lebih “halus”, kecuali untuk instrumen bass atau sejenisnya.